menjelang pemilu, krisis politik di negeri ini tak bisa di tutupi….
penguberan kaum perempuan buat dijadikan caleg tanpa memperhatikan pengalaman politik dan pengetahuan mereka tentang permasalah bangsa menjadi salah satu bukti betapa partai hanya memenuhi quota untuk tampil di pentas pemilu tanpa mengindahkan visi untuk membangun negeri
adanya berita penipuan terhadap puluhan tukang ojek oleh salah satu caleg guna membiayai biaya kampanye menjadi bukti lain, betapa tak qualifiednya caleg saat ini.
ragam iklan yang “merangkul danmengayomi petani” akhir2 ini begitu berhamburan menghiasi media
para politisi tampil dalam ragam event pemberian benih dan pemetikan hasil panen sebagai bukti “kepedulian mereka terhadap petani” . tapi ketika terjadi protes pembakaran hasil panen dan benih sebagai manifestasi kekecewaaan petani. mereka hanya lempar batu sembunyi tangan.
juga tak sedikit, parpol yang telah turun pamor, berusaha menaikkan pamornya dengan cara memajang para atis buat dijadikan caleg. padahal para artis tadi ketika berkampanye, tak sedikitpun mengetahui permasalah negeri.
parpol2 islampun menemui jalan buntu, meski muslim adalah mayoritas, namun parpol islam tak bisa meraih suara bulat dari kaum muslim di negeri ini, yang ada, mereka (parpol islan, red) terbagi dalam banyak kubu,
dan ada pula parpol islam yang demi menggalang suara, menanggalkan ideologi islam dengan menjadi “partai terbuka” yang bukan hanya terbuka untuk keanggotaan tetapi juga bersedia mencalonkan caleg yang bertentangan dengan keyakinan mereka, selama caleg tersebut menjunjung tinggi “demokrasi, visi dan misi organisasi”
bahkan yang paling membuat miris adalah, betapa banyak para politisi2 “bermasalah” yang dengan tebal muka tetap mengikuti ajang ini dan tampil selayaknya pahlawan penyelamat bangsa, padahal ketika mereka berkuasa, terbukti mereka telah gagal menjalankan tugasnya.
lalu muncul nama baru, yang tak pernah terdengar namanya, akan bisa mengetahui permasalahan negeri yang begitu pelik, padahal tak pernah satu kalipun ia muncul membela kepentingan rakyat ketika subsidi dicabut, dan saat aset2 negeri dijual.ketika banyak keluhan rakyat tentang harga dan sulitnya hidup ia tetap mendekam dalam kerangkeng bernama keraton.
lalu… calon mana yang dianggap layak???
masyarakat sudah lelah, tak peduli semanis apapun janji politik
pada akhirnya masyarakat tetap menjadi pihak yang paling dimarjinalkan.
lalu akankah wacana golput
cukup untuk membuka mata kita
betapa masyarakat tak percaya kepada pemerintah dan sistem yang ada
setelah ragam rezim berganti dan gagal
masihkah kita akan berkata bahwa ini adalah sistem terbaik
dan yang perlu diganti hanyalan para pelaksananya
tidakkah ini saatnya untuk kita memikirkan
sistem lain (selain demokrasi dan sosialis) sebagai solusi untuk permasalahan negeri ini
???????????????????????????????


