Islam dan Demokrasi ???

Posted: 7 Januari, 2008 in Artikel
Tag:

Mencari korelasi antara Islam Dan Demokrasi

(sebuah analisa pemikiran tentang Islam dan Demokrasi) 

Saat ini, demokrasi memiliki sell value tertinggi yang ditawarkan sebagai solusi atas semua permasalahan manusia. System yang secara teoritik dimaksudkan sebagai suatu system yang dibentuk, dijalankan, dan ditujukan guna kepentingan rakyat ini dalam tataran praktisnya akan senantiasa mengalami berbagai macam penyesuaian dan perubahan, sehingga seringkali penerapannya bersifat trial and error, coba-coba, atau sebagai mana yang dikatakan para pengusungnya, demokrasi itu bersifat proyeksi. 

Hanya saja, perkembangan demokrasi di negeri-negeri muslim yang cenderung stagnan dan berjalan lamban, dituding oleh banyak pihak sebagai factor utama yang menghalangi kemajuan kaum muslimin. Dan tentu saja, pemahaman islam ortodoks yang otentik namun kovensional berpengaruh dalam membentuk eksklusivisme yang menyebabkan kebanyakan kaum muslimin bersikap tetutup dari hal-hal yang berbau modernisme dan terbuai oleh romantisme masa lalu. oleh karena itu kaum muslimin wajib mengejar ketertinggalannya dengan jalan merekontruksi ulang pemahaman mereka terhadap Islam.

Mungkin inilah sekelumit pesan yang seringkali ingin disampaikan oleh pihak-pihak yang berupaya untuk menginfiltrasikan demokrasi ke dalam Islam. Lalu jargon semisal “nilai demokrasi juga terkandung oleh islam”, “demokrasi merupakan bagian dari islam”, atau “demokrasi adalah islam itu sendiri” kerap terdengar belakangan ini. Meskipun demikian, banyak pula para apologis muslim yang menolak adanya infiltrasi demokrasi ke dalam islam, sebab menurut mereka, demokrasi dan islam itu adalah dua hal yang berbeda dan tak mungkin dapat disamakan. Sebab demokrasi adalah pemikiran kufur yang haram hukumnya untuk diadopsi oleh kaum muslimin. 

Lalu bagaimanakah hubungan yang sebenarnya antara islam dan demokrasi??? 

Secara historical, gagasan demokrasi berasal dari budaya kuno Yunani yang menginginkan agar pemerintahan dipimpin oleh banyak orang dan bukan sedikit orang. Dan barulah pada tahun 508 SM Cleisthemes memperkenalkan dan menjalankan system “pemerintahan rakyat” di Athena. Akan tetapi ide Demokrasi itu muncul dan berkembang di Eropa sebagai jalan tengah antara pertikaian kaum gerejawan yang menginginkan agar pemerintahan diserahkan kepada raja yang menjadi wakil tuhan di dunia dengan kaum pemikir yang menginginkan agar gereja jangan mencampuri kehidupan sebab sejarah abad kegelapan telah membuktikan betapa peran gereja dalam kehidupan hanya melahirkan kediktatoran dan kesengsaraan bagi rakyat. Pada saat itu demokrasi muncul untuk menyelesaiakan pertikaian yang ada sehingga terjadi kesepakatan antara kaum rohaniawan dan pemikir bahwa  gereja/agama hanya mengatur dalam tataran pribadi individu, sedangkan politik kenegaraan diserahkan sepenuhnya kepada rakyat. Dan ide inilah yang kemudian dikenal sebagai ide sekularisme (pemisahan agama dalam kehidupan ) yang juga menjadi dasar bagi lahirnya ide kapitalis. Sehingga bisa dikatakan bahwa demokrasi itu lahir dari ide sekularisme yang notabene merupakan ideology bagi lahirnya peradaban barat. 

Akan tetapi seiring berjalannya waktu konsep demokrasipun mengalami perkembangan. Dan ia (demokrasi-red) telah diserukan oleh banyak manusia, dimana masing-masing dari mereka telah merumuskan makna demokrasi dan dikaitkan dengan akidah yang diyakininya, serta dicocok-cocokakan dengan tujuan-tujuannya. Implikasinya, pengertian demokrasi menjadi bercabang-cabang dan sangat beragam semisal demokrasi islam, demokrasi social, demokrasi pancasila, dll. Sehingga Robert dahl pernah mengatakan bahwa “”demokrasi itu sering simpang siur.

Hal ini mencerminkan kebenaran pendapat bahwa demokrasi itu sendiri memang masalah yang membingungkan”. Artinya,problem teoritiknya saja sampai sekarang belum memperoleh solusi yang memuaskan. Jadi adalah wajar jika dalam tataran praktiknya demokrasi akan terus mengalami perubahan dan penyesuaian dengan kondisi waktu serta tempat diterapkannya demokrasi, sehingga penerapan demokrasi itu masih bersifat “trial and error”, coba-coba, dan tambal sulam. 

Jadibagaimana mungkin jika demokrasi yang bersifat membingungkan dalam tataran teoritik dan bersifat trial and error dalam tataran praktis bisa menjadi solusi atas permasalah manusia yang sedemikian kompleks. Bukankah itu sama halnya dengan istilah “menyelesaikan masalah dengan masalah”??? 

Sedangkan tentang Islam, Alija Izetbegovic, seorang ahli hukum sekaligus filsuf berkebangsaan Eropa berpendapat bahwa “keunikan Islam adalah memproyeksikan pandangan holistic dengan norma agama sebagai praktik politik korektif, agama menjadi wahana untuk memperbaiki kehidupan public, bukan malah mengkhianatinya”. Artinya Islam itu muncul sebagai suatu aturan kompleks yang mengatur seluruh aspek termasuk pemerintahan di dalamnya. Dimana hukum dibuat berdasarkan sumber Islam itu sendiri yakni Al-Qur’an dan hadist. hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Lora Fraqlay bahwa “Islam adalah agama dan Negara dalam arti yang sebenarnya” artinya dalam menetapkan hukum, semua berdasarkan sumber-sumber hukum Islam saja tanpa adanya pengadopsian hukum dari luar Islam. 

Dalam bukunya yang berjudul “Seize The Moment” Richard Nixon yang juga mantan presiden Amerika menjelaskan tentang bagaimana hubungan antara peradaban Islam dan peradaban barat. Dia (Nixon –red) mengatakan bahwa “Komunisme memang terbukti telah gagal —-dan —sebagian pengamat telah memperingatkan bahwa Islam akan menjadi kekuatan Geopolitik yang ekstrem. Umat Islam yang didukung oleh pertumbuhan laju penduduk yang tinggi dan sumber daya alam yang tersedia akan membentuk ancaman besar, sehingga memaksa bangsa-bangsa barat bersatu dengan Moskow untuk mengahdapi bahaya permusuhan dari dunia Islam”. Pendapat ini menegaskan bahwa Islam dan Barat itu bertolak belakang.  

Dari berbagai pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa Demokrasi itu berasal dari pemikiran barat yang Sekuler dan tak mungkin untuk disatukan dengan Islam. Dan tentang kesamaan Islam dan Demokrasi yang dilihat dari

1.     Syura yang disamakan dengan musyawarah.

2.     Surat Al-kafiruun yang diserupakan dengan kebebasan beragama.

3.     Diperbolehkan dan dijaminnya kebebasan seseorang untuk menyampaikan pendapatnya yang dianggap sama dengan kebebasan berpendapat.

4.     Serta pernahnya seorang khalifah dipilih melalui pemungutan suara yang kemudian disamakan dengan pemilu.

5.     dll

Maka semua yang disebutkan diatas hanyalah sebuah penyamaan agar terlihat seolah-olah islam dan demokrasi itu tak jauh beda, padahal tak ada yang sama antara islam dan demokrasi baik secara teoritik,substantial, maupun tataran praktisnya. Dan untuk seorang muslimharam baginya mengambil hukum-hukum yang berasal dari luar islam .

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan menetapkan suatu ketetapan, aka nada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata “ (Q.s Al-Ahzab :36).  

Wassalam

Ana al faruqy.  

NB :

         Artikel ini ditujukan untuk mengetahui hubungan antara peradaban barat dan Islam serta yang dianalisa dari beberapa pendapat para pemikir,ahli politik, filsuf, dsb

         Pendapat2 yg dicantumkan sengaja diambil dari pemikir nonmuslim berkebangsaan barat. Untuk memperkuat ide bahwa ternyata apa yang disampaikan dalam tulisan ini tidak hanya datang dari pemikir muslim yang notabene apologis islam dan cenderung ekslusiv. Akan tetapi ternyata ide dalam artikel ini juga disepakati oleh orang non muslim.

         Mengenai perbedaan antara islam dan demokrasi baik dalam ide, teoritik, substantial,maupun tataran praktis akan dibahas dalam tulisan lain yang khusus membahas tentang hal itu.         

Komentar
  1. Tunjung mengatakan:

    Hmm,satu pertanyaan : “Demokrasi” itu apa?

  2. Tunjung mengatakan:

    Dengan mengkonfrontasikan Islam dengan Demokrasi,dengan sendirinya,tanpa kita sadari,justru kitalah yg membakukan dan dan mengkultuskan “Demokrasi” sebagai sebuah momok menakutkan,seperti menaikkan derajat suatu yg biasa2 saja menjadi sesuatu yg seolah layak diwaspadai.

    Padahal pelaksanaan demokrasi dinegara manapun tidak pernah ada satu bentuk baku,yg artinya tidak ada kebakuan dan dapat disetarakan kebakuan dalam agama dalam demokrasi.Nah sekarang kembali ke pertanyaan : “Demokrasi” itu apa?aku pake tanda kutip pada kata itu karena toh tidak pernah ada kesepakatan tunggal secara terminologis mengenai demokrasi itu sendiri,yg kalian jelaskan di awal2 paragraf itu hanya arti bahasa,dan coba kita lihat pelaksanaannya hari ini,betapa banyaknya variasi yang terjadi,apa filosofi demokrasi di negara-negara yang mengaku memberlakukannya?Jadi yg kita lawan adalah sesuatu yang kebetulan dinamai “Demokrasi” atau hanyalah sekedar kata “demokrasi”??Seperti kebiasaan melarang memakai celana/pakaian dari bahan jins di kalangan aktivis dakwah beberapa tahun yang lalu (karena sekarang sepertinya sudah tidak berlaku),apa salah celana jins sehingga harus dilarang,yg salah celana jins itu sendiri atau latar belakangnya atau apa?

    Paradoks bukan??

  3. blackisred mengatakan:

    terkait statement mas tunjung…aku ingat koment seorang teman
    “kalo kita mencoba untuk menentangkan islam dengan demokrasi,
    maka.. ya…akan bertentangan.
    dan kalo kita ingin menyamakan islam dengan demokrasi
    tentu..akan sama keduanya.”

    pertanyaannya adalah… sebenaranya apa yang kita cari, kebenaran ataukah pembenaran???
    karena kalau yang kita cari adalah kebenaran, tentu yang akan kita temukan adalah banyak pertentangan…
    dan kalau yang kita cari hanyalah sebuah pembenaran, maka pasti yang akan tampak adalah banyak persamaan.

    bukan mengkultuskan demokrasi—karena demokrasi memank terbukti telah gagal…tulisan ini ditujukan sesuai dengan judul “mencari korelasi” jadi ya mau tidak mau harus dikonfrontasikan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s